Teman Tidur Suamiku
“Sama-sama, Non. Diminum selagi hangat, biar badannya enak.”
“Iya, Mbak.”
Kilau berlian mungil di cincin itu menangkap cahaya lampu sore yang temaram. Ririn, yang pura-pura merapikan tumpukan buku di sudut meja, matanya terus melirik ke arah tangan Anya. Gerakan yang biasanya cekatan, kini melambat. Ia mengambil satu buku, mengelap sampul yang tidak berdebu, lalu meletakkan kembali dengan sangat perlahan. Rasa penasaran begitu kentara, seperti anak kecil yang mengintip kado ulang tahun.