Puisi Taufik selalu bikin aku terhenyak; ada ritme yang bergetar antara amarah dan sayang.
Aku merasa tema paling menonjol dalam karya-karyanya adalah kritik sosial yang bertaut erat dengan kepedulian kemanusiaan. Dia sering menulis tentang ketimpangan, korupsi, dan wajah-wajah yang terlupakan di pinggiran kota—tapi bukan sekadar mengeluh. Bahasanya tegas, lugas, dan kadang sinis, namun tetap memanusiakan subjeknya. Itu yang membuat puisinya gampang diingat karena ia menyentuh nurani, bukan hanya logika.
Di sisi lain, ada tema nasionalisme dan identitas yang tak kalah kuat: rasa cinta terhadap tanah air, sekaligus kekecewaan terhadap kebijakan yang merusak cita-cita. Di sinilah Taufik terasa sebagai suara yang sekaligus menegur dan menghibur; ia mengajak pembaca mempertanyakan nilai-nilai, sambil tetap menawarkan empati. Untukku, membaca puisinya seperti berdialog dengan teman yang peduli—keras tapi hangat.