Rayuan Maut Para Tetanggaku
serunya, matanya berbinar seperti anak kecil.
Bunga itu memang luar biasa, mekar sempurna, seolah baru saja dipetik dari surga. Namun, posisinya sangat berbahaya. Untuk menggapainya, aku harus turun sedikit dari jalur utama, melewati batuan curam, dan berpegangan pada akar pohon yang rapuh.
“Jangan, Sab. Itu bahaya. Sudah, ayo jalan lagi. Kita nggak boleh memetik bunga di gunung,” tegurku, mencoba menariknya.