Pendekar Pedang Naga
Saat Kael melepaskan ledakan sihir naga hitam dari udara, Arsel memantulkannya lewat medan cahaya miliknya, menciptakan efek ledakan ganda.
Pada malam ketiga, tubuh mereka penuh luka dan peluh. Tapi di antara nyala api unggun kecil, keduanya duduk bersandar pada batu naga yang hangat. Tak ada kata-kata, hanya kesadaran bahwa mereka semakin menyatu—tak hanya sebagai pejuang, tapi sebagai saudara dalam pilihan hidup dan mati.
“Kalau salah satu dari kita harus tinggal di kuil keenam…” Kael akhirnya berkata, “biarkan itu aku.”