Balada Asmara Biduan Dangdut
“Ah, sudahlah, lupakan soal itu. Sekarang kamu harus kembali memberikan komentar.”
Aku bingung harus mengatakan apa lagi. Bukankah kata ‘sempurna’ seharusnya sudah cukup mewakili semuanya? Tapi aku tak ingin Jamilla tersinggung. Maka kupaksa mataku untuk terus mencari-cari. Lehernya jenjang, dan sangking putihnya hingga terlihat guratan urat kehijauan. Tubuhnya langsing, dan pinggangnya melengkung sempurna. Dan ah, apalagi yang sekarang harus kukomentari? Semuanya tampak sempurna. Aku menggeleng. Menyerah. Sampai-sampai tidak tahu lagi harus mengatakan apa lagi.
“Kenapa?” tanyanya. “Hanya itu yang bisa kamu katakan?”