DINIKAHI CALON KAKAK IPARKU
"Karena saya butuh. Makanya saya selalu lakukan. Itu waktu saya untuk bicara sama Sang Pencipta, untuk meminta kekuatan, bimbingan, dan ketenangan hati.”
Jawabannya sederhana, tapi begitu mendalam. Aku hanya bisa menatapnya tanpa kata. Dia melanjutkan, "Kalau kamu merasa bingung, gelisah, atau mungkin marah, cobalah bangun malam. Shalat, bicara sama Allah. Kadang, kita cuma perlu mendengar hati kita sendiri untuk tahu apa yang harus dilakukan.”
Aku mengangguk pelan, tidak berani menatap matanya terlalu lama. Ke mana sosok yang sebelumnya angkuh, sombong dan terkesan arogan di mataku? Siapa dia sebenarnya sekarang?