Ada sesuatu yang magnetis tentang Cassis—karakternya bukan sekadar pendamping, tapi poros yang memutar dinamika cerita. Dalam 'Tragedy of Crowns', dia adalah bangsawan yang terperangkap antara loyalitas keluarga dan moral pribadi. Setiap dialognya seperti pisau bermata dua: manis di permukaan, tapi menusuk ketika diselami. Aku selalu terpana bagaimana pengarang memainkan dualitasnya lewat aksi kecil, seperti saat dia menyelamatkan protagonis hanya untuk mengkhianatinya di babak berikutnya.
Yang bikin lebih menarik, Cassis tidak pernah hitam atau putih. Dia punya alasan kompleks untuk setiap keputusan, dan itu membuatku sering berdebat dengan teman-teman di forum tentang apakah dia benar-benar antagonis atau korban sistem. Justru ambiguitas inilah yang bikin dia terus dibahas bahkan setelah cerita selesai.