Stupid Love With Crazy Bad Boy
Gadis ayu itu perlahan membuka kelopak netranya, saat bus yang ditumpanginya berhenti di halte Ambarketawang, ia pun segera berdiri menunggu giliran untuk turun, “Aku percaya, janji-Mu itu pasti, dan takdir manusia adalah nyata. Ketika keduanya berjalan dengan semestinya, di saat itu lah doa-doa yang selalu aku panjatkan, yang telah tertulis di Laul Al Mahfudz, mulai terbuka.”
Dengan penuh keyakinan, Dhilla berdoa dalam hati, sembari menuruni bus, yang langsung meninggalkan halte. Meninggalkan dirinya yang masih membisikan doa-doa dalam hati, mengharap kemudahan dalam menjalani hari-harinya di Kota Istimewa, Kota yang akan menjadi saksi seorang Tsabitah Fadhillah Karima, menebus kesalahan-ke
Sikat na Kabanata