Harta, Tahta, Obsesi Gila
"Memang lo gak cape berjuang sendirian selama ini, Ra? Gue aja yang liatnya capek loh, Ra? Padahal menurut gue, lo itu gak jelek-jelek amat, kok. Meski lo kadang agak lemot dan nyebelin. Tapi lo mau belajar dan pekerja keras. Lo itu ... apa ya? Punya daya tarik sendiri. Makanya menurut gue, lo juga pantas dicintai dan bahagia, Ra."
Shabira makin terdiam di tempatnya. Tatapan matanya semakin sendu.
"Cinta itu tidak menyakiti, Shabira. Jika memang sakit, maka itu bukan cinta, tapi obsesi. Lepaskan saja. Tidak akan ada gunanya tetap dipertahankan. Itu hanya akan membuat lo semakin hancur dan tersakiti." Arletta penutup obrolannya dengan sebuah nasehat. Sebelum berdiri menyambut kedatangan sang
الفصول الرائجة