Cerita Cinta Sang Janda Muda
"Bagaimana kalau hari ini, kita menikmati taman hiburan ini sambil bercerita tentang Gerald dengan jujur? Kita bisa tertawa, menangis atau bahkan menyesal. Kita tidak perlu berpura-pura semua baik-baik saja, kita hanya perlu menjadi Ruth dan Alex yang pernah memiliki putra bernama Gerald."
Airmata menetes ke pipiku. Aku tidak bisa menahannya, seakan-akan dia sudah menunggu waktu untuk keluar dari mataku. Alex langsung meraihku dan memelukku dengan erat, membuatku menangis semakin kencang. Aku yakin orang-orang pasti menatap kami, tapi aku tidak peduli. Alex juga tidak berusaha menghentikan tangisku. Dia hanya memelukku dengan erat sambil menepuk punggungku dengan lembut.