Simpanan Ayah Sahabatku
suara Gadis lirih, nyaris tenggelam oleh suara serangga pagi.
Mahen berhenti mengikat tali tasnya. Ia menatap Gadis, lalu tersenyum kecil yang seperti biasa, hangat dan menenangkan.
“Iya, Sayang. Kalau nggak hari ini, nanti aku susah dapat tumpangan. Pak Sarta cuma berangkat seminggu sekali,” jawabnya lembut.
Gadis menunduk. Ia menggenggam ujung selendangnya erat-erat. “Aku takut, Mas. Takut kalo Mas nggak balik lagi.”