PURA PURA JADIAN
---
Hari itu, aku duduk termenung di taman sekolah. Semua pikiran terasa seperti berlomba-lomba untuk mendapat perhatian—seperti pasar malam yang ramai dengan suara teriakan pedagang yang menawarkan barang dagangannya. Reyhan, yang dulunya cuma teman biasa, tiba-tiba jadi sosok yang sangat berarti. Tapi, Alif? Apakah aku bisa mengabaikan perasaan lama yang masih terpendam di sudut hatiku, yang rasanya lebih susah dihilangkan daripada noda tinta di baju putih?