Usai Keputusan Cerai
"Saya bicara secara gamblang dan berterus terang pada Abah dan Umi. Beliau bisa menerima Mbak Asmi. Bagi orang tua saya, yang terpenting adalah akhlak dan keshalihan seseorang, bukan masa lalunya. Bukankah kita juga sudah saling kenal semenjak kecil."
Mbak Asmi menelan ludah. Mereka memang sudah bertetangga semenjak baru lahir. Meski mulai beranjak remaja, Izam menghabiskan sekolah, kuliah, sambil mondok di sebuah pondok pesantren. Kalau Izam sambang pulang pun, mereka jarang bertemu. Kemudian masing-masing menikah.
"Bagaimana, Mbak?"
"Istri Ustadz dulu adalah seorang hafidzah," ucapnya lirih. "Saya nggak sebanding dengan Mbak Nikmatul, Mas."
Hot Chapters