Pernah terbesit di pikiran kenapa dua huruf ini punya aturan baca unik? Dalam Bahasa Arab, 'mim mati' bertemu 'ba' itu kasus ghunnah—di mana bunyi 'm' dipanjangkan sekitar 2 harakat. Ini bukan sekadar tradisi, melainkan konsep tajwid yang menjaga keindahan pelafalan Al-Qur'an. Aku ingat dulu belajar dengan guru ngaji yang selalu menekankan: 'Ghunnah itu seperti resonansi di langit-langit mulut, bukan sekadar dengung biasa.' Rasanya ada magis tersendiri saat melafalkannya, seperti menghidupkan lagi warisan lisan turun-temurun.
Uniknya, aturan ini hanya berlaku untuk 'mim mati' bertemu 'ba', bukan huruf lain. Konon, ini terkait dengan sifat huruf 'ba' yang tebal (tafkhim) dan 'mim' yang ringan (tarqiq), menciptakan harmonisasi suara. Aku sering berpikir, inilah bukti bahwa Al-Qur'an didesain untuk didengar, bukan sekadar dibaca. Setiap kali mendengar qari profesional melantunkannya, rasanya seperti gelombang suara yang menyentuh relung hati.