Tahanan di Ranjang Sang Letnan
Ia berbalik menuju ruang kerja, membuka laci paling bawah, dan mengeluarkan map tipis berwarna cokelat—berisi catatan-catatan lama yang belum sempat mereka susun ulang.
Nama-nama, tanggal, relasi yang tampak sepele jika dibaca terpisah, tapi berbahaya jika dirangkai. Map itu pemberian Aryotedjo sebelum mereka pulang kemarin.
“Kalau perang tidak menunggu pagi,” gumamnya, membuka map itu, “maka aku juga tidak.”
Di luar, matahari naik perlahan.
Dan di dua tempat berbeda, Pieter dan Cempaka bergerak di jalur masing-masing—menuju titik yang sama, meski belum tahu siapa yang akan lebih dulu sampai.
Hot Chapters