Oleh-oleh dari Mertua
Dari pada rasa penasaran menggiring mereka pada opini tidak jelas, lebih baik kupaparkan semua.
“Balas dendam bagaimana?” tanyaku.
“Ya ... apa, kek. Dicabein atau apa, biar gak gatal lagi,” sahutnya berapi-api.
“Anarkis, ah, kamu. Ini juga aku sedang balas dendam,” jawabku.
Ya, balas dendam dengan menunjukkan diri lebih baik. Ibu meremehkanku yang tidak bekerja, kala itu beliau sudah melihat usahaku ini. Kurasa itu sangat telak untuk menghentikan keangkuhannya.