KEMBALINYA SANG RATU
Perempuan tua itu terdiam lama, lalu berkata lirih, “Aku pernah menginginkan darahmu. DNA-mu. Aku mengira dalam dirimu ada kelanjutan dari garis keturunan yang harus sempurna. Bahwa warisan bukan tentang cinta, tapi tentang keabadian ambisi.”
Lintang tidak menjawab. Ia membiarkan kata-kata itu menggantung seperti kabut di atas lembah.
“Dan aku salah,” lanjut sang nenek. “Aku baru sadar, keturunan bukanlah salinan. Mereka bukan wadah untuk mengisi ambisi kita yang tak selesai. Mereka adalah sungai, mengalir ke arah yang tidak bisa kita kendalikan.”
Lintang mengangguk, matanya mulai berkaca.