Aku Menyerah, Mas!
Kanaya terkesiap melihat aksi nekatku.
“Mas, kamu apa-apaan, sih?” Dia mencoba melepas tanganku, namun dengan erat kucengkeramkan kedua kakinya.
“Mas minta maaf, Nay. Ampun. Jangan siksa batin Mas seperti ini. Mas menyesal telah menyia-nyiakan hidup kamu selama ini. Mas berjanji jika kita bisa hidup bersama lagi, Mas akan berubah. Mas masih mencintai kamu, Kanaya.”