Salah Melamar
“Dijah suka dengan namanya, Bu. Bagus. Terima kasih.”
Kupandang wajah Zahra anakku, sambil kupegang tangan mungilnya. Hidungnya mancung mirip dengan bapaknya, dengan bibir tipis dan kecil mirip bapaknya juga. Rambutnya juga panjang dan hitam, sama persis dengan Mas Ammar. Tak terasa, air mata inipun menetes, mengingat kelahirannya yang tanpa bapak. Harusnya, saat ini mas ammarlah yang berada di sisiku dan memberiku dukungan. Ia akan tersenyum bahagia, lalu melafalkan kalimat azan di telinganya.
“Mbah kakungnya ikut, Ndak? Siapa yang mau melafalkan azan?” tanya bidan Alin.
Bab Populer