Keturunan Untuk Suamiku
Ia tidak menghakimi, hanya memberikan ruang bagi Sabrina untuk menumpahkan segala isi hatinya.
"Aku... aku merasa sangat nyaman bicara denganmu, Mbak," ucap Sabrina, setelah menyelesaikan ceritanya, sebuah beban besar terangkat dari pundaknya. "Aku seperti punya kakak sekarang."
Fahira tersenyum lebar, matanya berbinar. "Tentu saja, Sab. Kita keluarga sekarang. Dan kamu memang adikku." Ia bangkit dari kursinya, memeluk Sabrina erat. Kedua wanita itu berpelukan, tawa kecil dan air mata haru bercampur. Mereka tampak bahagia, menemukan sebuah ikatan yang tak terduga di tengah rumitnya situasi mereka. Sebuah ikatan persaudaraan yang lahir dari takdir yang aneh, namun kuat.
Sikat na Kabanata