Kita yang Terluka
Tadi malam, Zahra memang membuat status tentang anaknya yang ribut dan bawel sekali rebutan minta dibacakan buku cerita.
“Kalau dilihat hanya hitungan detik ya lucu, Bang Indra, tunggu sampai maksimal setengah jam, pasti mulai berubah pandangannya.” Zahra tertawa melihat Indra mengangguk-angguk. Dia mulai menyeruput kuah pindang yang baru saja datang. Gurih, asam, manis, pedas memenuhi mulutnya. “Kenapa Abang betah menduda sekian lama? Kelihatannya Abang sangat menyukai anak-anak. Menikahlah. Apa belum move on dari mantan? Nyaris sepuluh tahun loh.”
Hot Chapters