DOWN UNDER DOWN
“Satu kali aku ke kantor, aku malah melihat sesuatu yang membuat hatiku nggak pernah bisa tenang...,”
Aku mendekat selangkah, menarik lengannya. “Apa?” desakku. Rasanya aku tidak pernah menyembunyikan apa-apa darinya.
Magisa menatapku dalam, dan bibirnya mulai membentuk kata dengan pelan. “Di kantor... kamu selalu memajang bunga matahari. Kata sekretaris kamu, kamu nggak menginginkan bunga selain bunga matahari di dalam vas,” katanya dan suaranya gemetar. Genggaman tanganku pada lengannya terlepas. Tapi, Magisa tampak masih belum berhenti berkata-kata. “Satu-satunya vas besar di kantor kamu selalu diisi bunga matahari dan diganti setiap layu, benar ‘kan? Vas itu nggak pernah kosong dari bung
Hot Chapters