Rayuan Maut Para Tetanggaku
“Tapi nanti Pak Jamal gimana? Itu kan punya Bapak.”
“Saya sudah kenyang, Mas. Lihat saja, ada banyak makanan,” katanya, menunjuk ke meja kecil di pos yang memang terlihat banyak bungkus makanan ringan dan air mineral. “Nggak mungkin saya habiskan semua. Daripada mubazir, mending untuk Mas Bima saja. Itu juga kalau Mas Bima nggak keberatan.”
Kalau dipikir-pikir, lumayan juga. Daripada harus naik motor dan mencari makanan ke luar malam-malam begini.