Tante, mau kan jadi Mamaku?
tanyaku karena terlalu lama menunggu di tengah kegiatan mencari si duda yang memakai kemeja hitam tanpa dasi dan jas itu.
“Kaos,” jawabnya singkat.
“Kaos?” beoku.
“Iya, seingat saya. Saya masih punya kaos cadangan di sini. Tapi saya lupa taruh di mana. Uhm ... ah, ini dia!” Tiba-tiba dia memekik riang, seraya menujukan kaos oblong berwarna hitam ke arahku.
“Maksudnya?” Aku masih tak mengerti arti tindakannya ini untukku.