Ada momen lucu waktu teman-teman ngelempar kata 'geblek' di grup, dan selalu ada yang ketawa ngakak.
Buatku, 'geblek' itu kayak versi kasual dari 'bodoh' atau 'konyol', tapi sering dipakai tanpa niat beneran nyakitin — lebih ke gaya ngejek yang manis antar teman. Di sekolah dan di media sosial aku sering lihat orang pakai itu buat ngomentarin tindakan ngawur, misalnya ketika seseorang jatuhin bekal di kantin atau salah nyanyi pas ngerap. Intonasi dan emoji yang nemenin kata itu nentuin maknanya: kalau disertai 😂 biasanya bercanda, tapi kalau pake caps lock dan titik banyak bisa terasa marah.
Asal katanya sendiri sering dikaitkan sama bahasa daerah, jadi ada nuansa lokalnya juga; di beberapa circle, 'geblek' terasa lebih santai dibanding kata-kata kasar lain. Namun aku selalu hati-hati waktu pakai ke orang yang nggak akrab — pernah ketemu nenek guru yang nggak ngerti konteks, reaksinya datar dan terasa nggak sopan. Jadi biasanya aku pakai 'geblek' cuma di antara teman dekat, atau kalau mau ngegombalin diri sendiri biar suasana nggak terlalu serius. Itulah pandanganku sebagai anak yang sering ikutan tren bahasa di chat; kadang lucu, kadang perlu jaga rasa.