Tumbal Purnama
Lila memegang erat selimut berdarah yang ia bawa, tangannya gemetar tak terkendali.
Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Pak Surya yang terlihat lebih tua dari usianya. Mata tuanya langsung menatap selimut di tangan Lila. “Kalian sudah terlambat,” katanya datar.
“Tolong, Pak,” kata Lila memohon. “Kami harus menyelamatkan anak kami. Kami harus tahu cara menghentikan ini.”
Pak Surya menghela napas panjang sebelum mempersilakan mereka masuk. Di dalam, ruangan itu dipenuhi aroma dupa yang menyengat. Di meja kayu, ada sebuah kitab tua dengan halaman yang terlihat rapuh.
Hot Chapters