Tolong Perlahan, Dokter Nate!
tanya Nathan, suaranya serak namun penuh selidik.
Ariel mendongak, menatap bola mata gelap Nathan lekat-lekat. Tidak ada keraguan di sana, hanya sebuah kepasrahan yang pahit. "Kita bisa dekat seperti ini. Tanpa status. Tanpa harus memperkenalkan aku sebagai kekasihmu di depan ayahmu, tanpa harus ada drama kasta, tanpa harapan yang muluk-muluk dari duniaku atau duniamu. Hanya kau dan aku di dalam ruangan ini, tanpa nama untuk hubungan kita."