Ada satu malam yang benar-benar menguji kemampuan improvisasiku ketika sepupuku menelepon mendadak, meminta tolong menjaga anaknya yang berusia 5 tahun karena dia harus menghadiri rapat darurat. Aku yang belum pernah mengasuh anak sebelumnya, langsung panik! Tapi ternyata, pengalaman itu justru jadi petualangan kocak. Si kecil malah mengajakku 'berkemah' di ruang tamu dengan selimut dan kursi yang disusun jadi tenda. Kami membuat 'api unggun' dari lampu senter dan kardus, lalu dia bercerita tentang dinosaurus imajinernya yang suka makan es krim. Hal paling mengejutkan? Aku justru belajar lebih banyak darinya tentang cara melihat dunia dengan kreativitas tanpa batas.
Yang bikin gregetan, dia tiba-tiba ngambek pas mau tidur karena aku salah menyanyikan lagu pengantar tidur. Ternyata versi lirikku beda tipis dengan versi ibunya! Akhirnya kami berkompromi dengan menciptakan lagu baru bersama-sama tentang kucing yang bisa terbang. Esok paginya, aku bangun dengan rambut dikepang ala putri duyung dan stiker unicorn di pipi—hadiah dari 'keponakan sementara' itu sebelum dia pulang. Pengalaman 12 jam itu mengajarkanku bahwa jadi orang tua itu seperti stand-up comedy: penuh improvisasi dan tawa yang tak terduga.