Ketika Mertua Ikut Campur
“Sudah sebulan lebih ternyata aku bekerja di sini. Tempatnya nyaman, makan pun bebas. Nggak salah aku ambil pekerjaan ini. Tentunya kalau melakukan tugas khusus itu, aku jadi dimabok kepayang. Hehehe. Enak, dapat duit banyak pula. Dan ibu di rumah bisa gampang berobat dengan uang hasil kerjaku di sini.”
Aku merebahkan bobotku di atas kasur hanya untuk bersantai saja. Aku suka berangan-angan dan berbicara pada diri sendiri. Bukan hanya untuk menyemangati, tapi dengan mengingat hari-hari yang sudah berlalu membuatku semakin bergairah. Apalagi jika mengingat tentang mas Lutfan. Mungkin bibirku akan selalu mengembang setiap detiknya.