Jodoh yang Tertunda
Ia membuang muka.
“Iya … Ibu doakan, kamu cepat isi ya, Num. Ibu sudah tak sabar ingin menimang cucu.” Tangan keriputnya menggenggam lenganku erat. Ya Tuhan, aku sungguh tak tega.
Setelah Ibu berlalu, aku terdiam di depan washbak yang penuh dengan piring kotor. Pikiranku tak mampu lagi dikondisikan. Rasanya aku akan menjadi gila jika terus-terusan begini. Bagaimana mungkin aku bisa hamil, jika saat melakukan itu Mas Ardan selalu memakai pengaman? Dan juga, menunaikan kewajiban itu sekali-kali saja? Bahkan dapat dihitung dengan jari, selama enam bulan pernikahan kami?
Hot Chapters