Imperfect Love
“Matikan komputermu, biar aku antar pulang.”
“Nggak usah, Mas.”
“Kenapa? Takut juga aku apa-apain?”
“Nggaklah,” jawab Arista masih memanyunkan bibirnya. Ia kembali menatap layar komputer, tetapi tidak melakukan apa-apa. “Saya nggak takut kalau sama Mas Bira.”
Alis Bira tertaut, lalu bersedekap. “Nggak takut kalau aku apa-apain?”