Dinikahi Calon Adik Ipar
“Rasanya saya berani-berani saja menjalani kehidupan ini, tapi saat membaca draft awal buku ini, ada bagian yang langsung membuat saya berpikir, ‘Oh, iya. Saya belum punya cukup keberanian untuk ini’.”
Kanya tersenyum dengan mata berbinar. “Bagian ‘itu’, ya, Kak? Bagian yang bikin dirimu sampai nangis itu, kan?”
Vera malu-malu, tetapi dia tidak mengelak. “Bab satu, halaman 19. Ingat banget, kan? Editornya, nih!” kelakarnya.
Mereka yang kebetulan sedang memegang buku “Secangkir Teh Pahit di Hari Kelahiran” buru-buru membuka halaman yang dimaksud.
Bab Populer