Pembalasan Sang Dokter Jenius
Di bawah cahaya lampu jalan yang suram, ditemani oleh mayat yang mulai kaku dan bau amis darah yang kini nyata, bukan lagi ilusi.
“Sudah terjadi,” suara Khodam terdengar di benaknya. Kali ini tidak ada tawa. Tidak ada ejekan. Suaranya datar, dingin, dan pragmatis. “Jangan merengek. Jangan menyesal. Dalam pertarungan hidup dan mati, hanya ada dua pilihan: membunuh atau dibunuh. Dia berniat membunuhmu. Kau hanya lebih cepat. Itu saja.”