Rayuan Maut Para Tetanggaku
Aku bangkit dari sofa dengan malas, mengira itu mungkin Shani, Mbak Susi atau mungkin Mbak Wina yang lagi-lagi ingin menggangguku dengan alasan latihan gym atau sekadar membawakan makanan.
Aku mengintip melalui lubang pintu dan mengerutkan kening. Di sana berdiri seorang pria mengenakan jaket bomber hitam, celana jeans robek di lutut, dan topi baseball yang diputar ke belakang. Wajahnya tertutup masker hitam, tapi matanya terlihat sangat tajam dan familiar. Di sampingnya berdiri Pak Jamal, yang tampak tersenyum lebar.