Bukan Rahim Pengganti
tanyanya mengiringkan senyumnya, mungkin saat ini dia sedang mengejek tulisanku yang agak berantakan, yang memang tak pandai dalam urusan seni menggambar.
"Iya biar gampang," jawabku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
"Terus darimana kamu tau kalau dia botak, tua, kalau belum pernah ketemu?" tanyanya lagi.
"Ya, karena orang yang saya jemput itu orang cerdas, IQ nya di atas rata-rata, pasti wajahnya nggak jauh- jauh dari Albert Einstein, Mas," jawabku, karena memang itulah yang ada di benakku tentang Dokter Mirza spesialis kanker itu.
Hot Chapters