Menggambar pohon itu seperti bercerita tentang karakter—setiap garis pensilmu adalah suara yang membentuk kepribadiannya. Aku selalu mulai dengan batang, bukan sekadar garis lurus, tapi memberi lekukan dan tekstur untuk menciptakan kesan 'hidup'. Cabang-cabang harus mengalir seperti sungai, semakin tipis di ujung, dengan variasi sudut agar tidak kaku. Daun? Jangan terjebak detail! Blok bentuk dasar dulu dengan shading kasar, baru tambahkan titik-titik atau goresan spontan untuk ilusi kerimbunan. Kuncinya: pensil 2B untuk depth, gunakan sisi pensil untuk area luas, dan jangan takut 'berantakan'—pohon nyata pun tidak sempurna.
Satu trik favoritku: amati pohon asli tapi jangan ditiru mentah-mentah. Biarkan imajinasimu memilih mana yang penting. Kadang aku malah sengaja membuat bayangan lebih gelap di satu sisi untuk drama, atau memberi celah kosong di antara daun sebagai spot istirahat mata. Ingat, sketsa pensil itu tentang sugesti, bukan realisme fotografi.