Rasaku Ditelanjangi
Jari-jarinya tampak cekatan saat menyulut api, lalu mengisap dalam, menghembuskannya ke langit mendung yang mengambang di atas danau.
“Aku cepet ya makannya?” tanyanya sambil melirik ke arahku yang masih berkutat dengan tusukan ketiga.
“Kayak orang dikejar waktu,” jawabku sambil tertawa kecil.
“Dulu,” katanya tiba-tiba, suara agak pelan, “aku nggak pernah kepikiran bakal nyaman ngobrol sama perempuan yang bukan pacar.”
Aku menoleh, menatapnya dari balik uap teh yang masih hangat. “Lho, aku bukan perempuan?” godaku pelan.