Jodoh Di Tangan Papa
Melihat sorot di mata Kama yang begitu menakutkan, sudah waktunya ia minta maaf.
“Aku—“ Kalimat Quan terjeda.
“Sekali lagi kau melakukan perbuatan menjijikan dan kampungan seperti ini lagi, akan aku hancurkan perusahaan Ayahmu!” ancam Kama sebelum pria itu meminta maaf.
Bagi Kama maaf hanyalah sebuah kata, dan ia tidak membutuhkannya bila sesuatu telah terjadi.
Quan mengangguk cepat, ia tau kehebatan Kama dalam bisnis dan bila dilihat dari ekspresi wajah juga nada suaranya, pria itu tampaknya tidak main-main.