Menantu Tegas, Ipar Panas, Mertua Lemas
kataku setengah berteriak.
“Ayam naik, Mbar. Tiga puluh ribu satu kilo, mau?” tanyanya meminta persetujuanku.
“Nggak apa-apa, cepetan ya Mpok, sudah mau hujan soalnya,” kataku memohon.
“Iye,” katanya sambil menaikkan kedua jempolnya. “Dul, potongin ayam buat Kak Ambar, satu ekor,” katanya berteriak ke arah Abdul, anaknya.