Terpaksa Jadi Playboy
“Iya, syukurlah kita semua dalam keadaan baik.”
Duh, mendengar derai tawanya saja, hatiku seperti meloncat-loncat. Inikah yang dinamakan cinta? Ah, norak, lu, Ken!
“Aku mau ketemu. Ada waktu?” tanyaku, tembak langsung. “Ada yang mau aku bicarakan.”
“Iya, boleh. Pagi ini, jam sepuluh, di kampus. Kuliah berikutnya jam sebelas, jadi satu jam cukuplah untuk ngobrol. Boleh?”
Hot Chapters