Samaran Terakhir
Kai mendekati salah satu pusaran itu, dan tiba-tiba Zrrppp sebuah kilatan cahaya muncul.
Muncullah sesosok wanita yang seluruh tubuhnya terdiri dari potongan-potongan teks acak, seolah ia lahir dari catatan revisi yang tak pernah disimpan. Ia memandang Kai dengan mata yang tidak memiliki pupil, hanya titik-titik kutipan.
“Namamu Kai,” katanya, suaranya terdengar seperti dua kalimat yang saling bertabrakan. “Kau berasal dari pinggiran kalimat, tapi sekarang... kau berada di tengah potensi.”