LEBIH BAIK KITA BERPISAH
"Apakah lelaki pezina ini kini tengah mengajariku tentang Tuhan? Tentang dosa? Pikirkan sendiri dirimu, Jonas."
Aku terhenyak mendengar kosa kata yang dia pilih. Lelaki pezina, manusia yang penuh dosa. Dia benar, itulah aku. Aku sendiri heran sejak kapankah aku menyadari bahwa aku bersalah? Apakah tinju Biru yang menyadarkan aku? Atau tangis Mama yang malu saat hadir di acara lamaran Senja dan Biru? Atau, doa dari orang-orang yang peduli padaku, yang akhirnya menembus langit dan dikabulkan Tuhan? Doa, agar aku berubah, cukup sudah petualangan penuh dosaku selama ini.
Kemudian, tatapanku jatuh pada perutnya yang mulai membentuk.