Ada kalanya melepas itu bukan soal kalah, melainkan memberi ruang bagi kedua hati untuk tumbuh.
Aku pernah menulis sendiri beberapa kalimat agar lebih tenang setelah putus, dan kadang mereka terasa seperti doa yang kukirimkan ke masa depan. Contoh yang sering kusebut pada diri sendiri: 'Terima kasih atas kenangan indahnya, aku akan menyimpan yang baik dan belajar dari yang sulit,' atau 'Semoga kamu menemukan kebahagiaan yang kamu cari; aku juga akan berusaha untuk bahagia.' Kalimat-kalimat sederhana ini nggak membuat luka langsung hilang, tapi membantu aku mengubah rasa sakit jadi niat untuk memperbaiki diri.
Kalimat lain yang kupakai ketika ingin benar-benar mengikhlaskan tanpa drama adalah: 'Aku merelakanmu pergi karena aku percaya tiap orang berhak menemukan jalannya sendiri,' dan 'Ini bukan akhir dari hidupku, hanya bab yang harus kututup sekarang.' Ucapkan dengan tenang, jangan paksa dirimu cepat pulih—beri waktu. Kadang aku juga menulis surat yang tak pernah kukirim untuk merapikan perasaan; menuliskan 'terima kasih, maaf, selamat tinggal' sudah cukup sebagai ritus kecil untuk move on. Ingat, mengikhlaskan itu proses; tak apa jika hari ini kamu masih meneteskan air mata, besok mungkin mulai tersenyum lagi.