Rayuan Maut Para Tetanggaku
kataku, memberikan jawaban yang aman, tapi menyiratkan perasaanku yang kacau.
Mata Sabrina meredup, namun dia tersenyum. Senyum itu terasa pahit, namun penuh pengertian. “Itu sudah cukup, Kak.”
Kami berdiri di sana, di puncak tertinggi, berbagi keheningan yang sarat makna, menyaksikan matahari perlahan naik, membakar sisa-sisa kabut di bawah kami. Kami akhirnya menemukan keindahan panorama Gunung Gede yang sesungguhnya. Itu adalah pemandangan terindah yang pernah kulihat, namun juga momen paling menyakitkan dan memabukkan yang pernah kurasakan.