Menuju Matahari
“Mungkin mau ada pemerkosaan.”
Saketi mengangguk. “Bisa jadi. Ayo, kita lihat! Pemerkosaan selalu enak dilihat.”
Remak mengangguk pula. “Setuju.”
Mereka membelokkan kuda, keluar dari alur jalan utama di arah utara dari kota Kajoran. Jerit lengking yang memilukan itu berasal tak begitu jauh dari jalan, kemungkinan pada jarak tak sampai setengah pal. Tempat ini sendiri sudah berada cukup jauh dari perbatasan kota. Tak jauh di depan terdapat percabangan jalan menuju tiga arah sekaligus: barat laut menuju Pasir, terus utara mendaki ke Dieng, dan timur laut ke arah Tirta Mas dan lalu Paranggelung.