Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Kami Tanpa Kamu

Kami Tanpa Kamu

Ucapku tegas, tidak akan membiarkan hal memalukan terjadi. "Tapi kan anuku nggak sakit." Kalimatnya membuatku terdiam, benar anunya tidak sakit. Tapi tolonglah lihat keadaan. Masa melakukan malam pertama di sini dan dalam keadaan ini? Oh, bukan malam karena sekarang masih siang, lalu ini bukan pertama tapi kedua. Aku memutar bola mata jengah, apa dia tidak setahan itu? "Aku bisa berbaring, terus kamu di atas."
10117.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 4.3K kali sebagai kata2 confess
Baca
+Pustaka
Kali Kedua

Kali Kedua

kata Yoga sambil terkekeh. "Oke kalau gitu. Hati-hati di jalan. Dan salam-salam buat Siska." "Oke. Nanti kusampaikan salammu. Aku pamit ya Ky. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam." Yoga telah menghilang di balik pintu pemisah ruang depan dan area gazebo ini. Dan aku langsung membalik kartu nama yang sedari tadi telah kugenggam dengan sangat erat di tangan kananku ini :
1019.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 464 kali sebagai kata2 confess
Baca
+Pustaka
KINASIH

KINASIH

Wajahnya semakin merah, karena baru menyadari ada penghianat di antara mereka. Si tamu menarik kembali lengannya dan meletakkan ponsel di atas meja. "Aku tak akan mengatakan pada siapa pun, asal kau secepatnya menyelesaikan wanita gila itu," bisik pria yang kini melepas kacamata.
1.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 35 kali sebagai kata2 confess
Baca
+Pustaka
LEAK

LEAK

Ia mulai berkonsentrasi untuk membaca satu persatu kata yang tercetak di sana. "Arjuna, aku ingin minta maaf kepadamu," ucap Gayatri setelah sekian menit membaca. "Minta maaf? Untuk apa?" tanya Arjuna sambil tetap membaca. "Hal yang tadi. Tentang pertanyaanku atas kematian anak bahasa itu." "Lupakan saja. Lagi pula wajar jika kamu berpikiran demikian." "Tidak bisa seperti itu, Arjuna."
103.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 80 kali sebagai kata2 confess
Baca
+Pustaka
Klandestin

Klandestin

"Gak mau keluar?" "Hm?" "Udah sampai, gak mau keluar." "Oh." Bestari segera melepas seatbelt, lalu berbalik memandang ke arah Batara yang ternyata juga memandangnya. Salah tidak sih kalau dia deg-degan. "Ma–makasih." Ia berdehem, kenapa suasananya terasa canggung begini sih. Ini juga kenapa Batara diam saja.
3.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 67 kali sebagai kata2 confess
Baca
+Pustaka
Tak Ada yang Kedua

Tak Ada yang Kedua

Bibir tipisnya bergerak tanpa suara, “Kau kalah.” Aku memang kalah. Aku telah kalah dalam seluruh hidupku, itulah sebabnya sekarang aku tak ingin kalah lagi. Beberapa saat kemudian, layar ponselku menyala. Itu pesan dari Anto. [Hari ini pasti membuatmu merasa tertekan, Elsa. Maaf.] [Setelah semua ini berlalu, aku akan memberimu pesta pernikahan yang megah. Kita akan menikah lagi.]
27.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 905 kali sebagai kata2 confess
Baca
+Pustaka
Sisa Takdir

Sisa Takdir

ujar Ethan dengan suara terputus-putus. Pikiran Caine seakan pudar. Rasa panik dan bersalah bercampur menjadi satu. Namun, Ethan tetap waspada meskipun matanya menunjukkan keteguhan hati. “Aku… Maafkan aku,” bisik Caine, lalu melepaskan cengkeramannya dan pergi begitu saja. ***
102.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 84 kali sebagai kata2 confess
Baca
+Pustaka
Karma Itu Nyata Pengkhianatan

Karma Itu Nyata Pengkhianatan

Dia memegangi kepalanya dengan putus asa dan terus-menerus bergumam. "Nissa, aku memang sangat salah, bisakah kamu kasih aku kesempatan lagi?" "Kamu tahu betul, selama ini kita baik-baik saja. Hanya sekali ini saja aku berbuat salah!" "Aku bersumpah, aku dan Yessy nggak ada apa-apa, nggak ada yang melampaui batas ...." Makin banyak dia berbicara, makin ragu dan pelan suaranya. Bahkan dia sendiri mungkin merasa kata-katanya ini menggelikan.
7.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 226 kali sebagai kata2 confess
Baca
+Pustaka
Suami Wasiat Kakek

Suami Wasiat Kakek

Diam menunggu Rafka melanjutkan ucapannya yang singkat-singkat seperti rumus. ‘Dia ini lelaki yang tingkat kepekaannya minus kayaknya! Apa iya dia masih homo sama Rengga? Padahal aku siap kalau mau diraba. Kan lebih etis dia menyentuh aku daripada menyentuh Rengga yang sama-sama lelaki!’ gumam Katarina dalam diamnya. “Ada apa, Katarina? Kamu kenapa menunduk seperti itu? Angkat kepalamu!” tegas Rafka mengatakan kalimat itu tanpa basa-basi.
108.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 176 kali sebagai kata2 confess
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
345678
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status