Diriku Seutuhnya
Di malam peringatan sembilan tahun pernikahan kami, suamiku yang bernama Felix Tosa, pria yang di siang hari menguasai keluarga mafia dan di malam hari menguasai hatiku, tidak memberiku setangkai mawar pun.
Dia malah memberikannya pada Celine, asisten pribadinya.
Di bawah lampu gantung tempat kami pernah berdansa saat baru menikah, dia menoleh padaku dengan pesona dingin yang dulu pernah membisikkan kata cinta di telingaku.
“Dia hamil,” katanya, seolah itu sudah cukup sebagai penjelasan.
“Dan dia sangat pilih-pilih soal makanan. Mulai sekarang, kamu yang harus menyiapkan makanan tiga kali sehari untuknya, nggak boleh ada menu yang berulang.”
“Dia juga sensitif, nggak suka tidur sendirian. Ja