Sentuhan Adik Sahabatku
“Kamu kenapa, Ru?”
“Demam. Mungkin kecapean. Deadline lagi numpuk,” jawab Birru lirih.
“Kamu ada obat?”
“Ada, Mbak.”
'Kalau kamu ke sini, aku pasti sembuh,' batin Birru, getir. Kalimat itu bergema di kepalanya, tapi hanya tinggal di sana. Lidahnya terlalu pengecut untuk mengucapkannya.
“Ya sudah. Minum obatnya. Aku nggak jadi masak bekal kamu,” kata Jennar akhirnya, suaranya terdengar berusaha biasa.