SARANG PREDATOR
bisikku, empeduku seakan naik ke tenggorokanku.
“Mulai dari awal. Ceritakan kejadian malam itu kepadaku,” kata Aqmal memberi perintah.
Pikiran berpacu, air mata ngeri berkumpul di mataku. Kuharap, Adib berkata hal yang jujur. “A-aku … sedang berada di dalam kamar saat melihat cahaya dari luar, dan menyadari cahaya itu asalnya dari api. Jadi, untuk melihat lebih jelas, aku keluar rumah. Saat aku ingin berteriak meminta bantuan, aku melihat dia—“ Sambil mengangkat tanganku yang gemetar, aku menunjuk Andika. “Dia.” Aku menelan ludah, pandanganku kembali mengarah pada pistol—berjuang untuk fokus. “Hmm ... dan kemudian seseorang lagi keluar dari dalam rumah, dan aku kenal orang itu, Adib, kami sa