Kehidupan Ketiga Sang Villainess
"Setiap hari hanyalah abu. Aku bangun, aku membunuh, aku menaklukkan, lalu aku tidur di atas takhta dingin menunggu pembunuh bayaran berikutnya. Tidak ada warna dan tidak ada rasa. Aku adalah Kaisar Kehancuran yang sempurna sesuai naskahmu, kan? Tapi aku kosong. Aku mati di dalam, jauh sebelum pedang pahlawan menembus jantungku."
Aurelia terdiam dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Ia ingat deskripsi itu karena ia yang menulisnya, yakni menulis Xaverius sebagai karakter yang tidak memiliki hati dan hanya menjadi mesin pembunuh yang ditakdirkan mati tragis.
Xaverius kembali membawa Aurelia berdansa dengan langkah yang kini lebih tegas serta lebih intens.